20 Jul 2016

Pokemon GO Disinyalir Merupakan Sistem Penyadapan CIA?

Awas! Pokemon Go Mirip Sistem Penyadapan CIA di Facebook


topikindo.com - Ada suka bermain Pokemon Go? Di mata Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI, ada ancaman terhadap negara yang muncul dalam game yang sudah menjadi viral ini, termasuk penyadapan informasi mengingat penggunaan data-data dari geo positioning system (GPS).

Ada dampak negatif yang ditimbulkan permainan ini terhadap keamanan negara., yaitu penyadapan dan pengumpulan data lokasi strategis badan keamanan suatu negara. Menurut Satuan Cyber Bais TNI, Pokemon Go serupa dengan sistem pengumpulan data lokasi yang biasa dilakukan oleh National Geospatial-Intelligence Agency (NGA) dan Central Intelligence Agency (CIA) di sosial media Facebook.

Pola penyadapan informasi berupa data lokasi yang dilakukan oleh permainan Pokemon Go ini terjadi dengan cara menyediakan pokemon langka atau pokemon legenda. Jenis pokemon ini hanya bisa didapatkan di sejumlah tempat strategis pemerintahan, seperti Istana Negara, Kementerian Pertahanan dan Kementerian Politik Hukum dan Keamanan serta Lembaga/Kementerian strategis lainnya pada waktu malam hari untuk diburu oleh seluruh Pokemaster.

Selanjutnya, Pokemaster yang memburu pokemon ke sejumlah tempat strategis pemerintahan itu secara tidak langsung juga akan membantu pihak asing untuk mengumpulkan informasi. Hal ini termasuk data lokasi wilayah penting yang selama ini sulit ditembus oleh negara manapun.

Pola pengumpulan data wilayah yang dilakukan Pokemon Go ini hampir sama dengan pola yang dilakukan oleh Google untuk layanan Google Maps atau Google Earth menggunakan kamera Google yang berkeliling ke seluruh wilayah atau Street Maping. Mobil Google yang berkeliling ini mengumpulkan informasi berupa nama jalan, nama gedung, dan lokasi lainnya untuk digunakan pada layanan Google Maps atau Google Earth.

Menurut Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM), Prof. Dr Tina Afiatin, permainan Pokemon Go ini adalah perangkat jenis baru yang dimiliki oleh intelijen negara asing untuk merekonsiliasi data citra fisik valid. Hal ini sekaligus memetakan setiap sudut wilayah negara di mana para user mengaktifkannya dan berbentuk game yang terbalut teknologi interconnecting geospasial.

“Coba bayangkan jika seluruh pejabat, tentara, polisi, PNS dan masyarakat awam berbondong memainkan game ini diwilayah kerja masing-masing. Berapa banyak data valid bangunan fisik serta citra ruang yang harusnya bersifat rahasia bagi suatu pertahanan negara dapat diakses,” tuturnya.

Amerika Serikat juga sempat menjalankan sebuah teknik operasi intelijen yang dijalankan melalui eksploitasi dan analisis pencitraan serta informasi geospasial. Salah satunya upaya saat memburu Usamah bin Muhammad bin Awwad bin Ladin atau Osama bin Laden di rumah persembunyiannya dengan menggambarkan fitur fisik dan aktivitas secara geografis bumi atau yang disebut Geospatial Intelligence pada 2 Mei 2011.

Berkat Google Maps dan Google Earth, Amerika Serikat dapat mengikuti perjalanan Osama Bin Laden mulai dari Khartoum sampai Jalalabad hingga daerah terpencil di mana pun sebelum dibunuh di Pakistan. Saat itu, teknologi Google Earth hanya dapat melakukan mencitrakan dalam bentuk datar suatu wilayah melalui satelit.

Pengumpulan informasi dalam bentuk wilayah ini akan lebih sempurna dan faktual dengan menggunakan aplikasi game yang dapat mengumpulkan data fisik dalam bentuk 3D seperti yang ada pada fitur Pokemon Go.

Permainan buatan Nintendo tersebut memang tengah menjadi tren belakangan ini dan banyak dimainkan oleh anak muda di seluruh dunia. Pengguna Pokemon Go juga telah memberikan banyak keuntungan kepada perusahaan game asal Negeri Sakura itu. Berdasarkan data perusahaan analisis aplikasi mobile Think Gaming, Pokemon Go diperkirakan berhasil meraup keuntungan hingga US$1,6 juta per hari hanya di Amerika Serikat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar