19 Jul 2016

Ini Dampak Vaksin Palsu yang Telah Masuk Tubuh Buah Hati Anda

Dampak Vaksin Palsu


topikindo.com - Kesuksesan Polri membongkar sindikat pemalsu vaksin memang patut diacungi jempol. Namun, kenyataan ini menimbulkan kekhawatiran para orang tua akan dampak vaksin palsu yang mungkin saja terinjeksi ke tubuh si buah hati.

Desy Susilawati, misalnya, ibu dua anak ini merasa khawatir apakah buah hatinya yang masih balita tersebut terinjeksi vaksin palsu. Bukan hanya tidak mendapat manfaat dari vaksin yang disuntikkan, wanita karier ini juga cemas terhadap efek samping yang timbul akibat penyuntikan vaksin palsu itu.

Rasa waswas yang ia limpahkan di jejaring sosial Facebook ditimpali temantemannya yang notabene juga memiliki anak balita. Indah Handayani misalnya, mengaku amat khawatir dengan kejadian ini. Putra semata wayangnya secara rutin menerima imunisasi di sebuah rumah sakit swasta di bilangan Bekasi.

Pemberitaan yang menyebutkan salah seorang pelaku pernah bekerja di rumah sakit tersebut praktis membuat Indah merasa tak tenang. Rasa geram terhadap pasutri pemalsu vaksin juga ia tunjukkan lewat media sosial yang direspons cukup banyak oleh kawannya yang sebagian besar kaum ibu muda.

Namun, Dr dr Hindra Irawan Satari SpA(K), konsultan penyakit infeksi dan pediatri tropis Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, yang juga Satgas Imunisasi PP IDAI (Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia) mengatakan, orang tua seharusnya tidak perlu cemas berlebihan atas kasus ini.

Hasil laboratorium terhadap vaksin palsu menunjukkan komposisi air 0,5 CC dan antibiotik dalam takaran yang sama, menurutnya tidak akan membawa dampak signifikan terhadap tubuh. ”Kalau air 0,5 CC tidak ada efeknya, begitu pun dengan antibiotik 0,5 CC. (Antibiotik dengan takaran) itu tidak akan menyebabkan resisten. Taruhlah anak menerima vaksin berulang sebanyak tiga kali.

Tapi kan dilakukan sebulan sekali. Juga belum bisa menimbulkan resisten antibiotik,” sebut dr Hindra. Ia melanjutkan, vaksin selalu dilakukan berulang, mulai usia satu bulan, yang dilanjutkan pada bulan keempat, enam, hingga anak berusia 18 maupun 24 bulan, dan hingga umur anak menginjak lima tahun misalnya.

Dengan demikian, kemungkinan anak mendapatkan vaksin palsu juga tidak besar. Dr Hindra pun menyarankan para orang tua agar lantas tidak antipati terhadap vaksin atau malah menjadi golongan antivaksin. Sebaliknya, lanjutkan saja pemberian vaksin kepada anak sesuai jadwalnya.

Karena itu, kekebalan tubuh yang diperoleh dapat terpenuhi. Atau kalaupun merasa tidak yakin, boleh saja melakukan vaksinasi ulang. Dr Hindra juga menyebutkan, selama vaksinasi dilakukan di fasilitas kesehatan pemerintah seperti puskesmas ataupun rumah sakit swasta besar, maka para orang tua tidak perlu khawatir. ”Kalau di rumah sakit swasta besar, mereka membeli vaksin dari distributor resmi yang diaudit oleh Badan POM setiap tahunnya,” imbuhnya.

Dampak vaksin palsu yang tidak membahayakan kesehatan juga ditegaskan oleh Menteri Kesehatan Prof Nila Moeloek. Hasil analisis laboratorium terhadap sampel vaksin palsu, yakni materialnya tidak terlalu mengkhawatirkan. Meski demikian, kekhawatiran lebih ditujukan terhadap sterilitas proses pembuatan dan wadah vaksin.

”Mengenai dampak ke anak, kita telah minta hasil penemuan isi vaksin palsu tersebut dari hasil pengujian barang bukti. Nah yang ditemukan adalah campuran cairan antibiotika yang dampaknya nggak terlalu besar. Itu karena bukan virus atau bakteri yang dilemahkan.

Adapun yang lebih kami khawatirkan adalah steril atau tidaknya, yang bisa memicu reaksi alergi kulit atau infeksi,” tutur Menkes dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar