Tak ada yang meragukan kecantikan alami Raline Shah maupun Sandra Dewi. Bahkan ketika keduanya sedang beradu untuk berpose jelek pun, netter tetap saja memuji kecantikan Raline dan Sandra.
Seperti baru-baru ini, Raline mengunggah foto selfie-nya bersama Sandra di akun Instagram miliknya. Dalam foto tersebut, bintang film "Terpana" ini saling beradu memanyunkan bibirnya dengan Sandra seolah berpose mirip duck face.
Raline terlihat cantik dengan busana berwarna hitam dan mengaplikasikan riasan natural terutama warna nude pada bibirnya. Sedangkan Sandra lebih menonjolkan bagian matanya serta bibirnya dengan polesan lipstik merah. "Ketemu sama yang udah mau nikah @sandradewi88," tulis Raline dalam caption-nya.
Sementara itu, netter pun berbondong-bondong mengomentari foto selfie Raline dan Sandra ini. Kebanyakan dari mereka justru merasa heran karena meski sedang mencoba berpose jelek, keduanya malah terlihat makin cantik.
"Nyengir aja Cantik," komentar netter. "Demi apa bidadari dua2nya," tambah yang lain. "Waduh belajar mau jelak ya? Tetep aja cantik," seru lainnya.
24 Okt 2016
Sandra Dewi dan Raline Shah Kompak Lakukan Selfie Duck Face
Ibunda Artis Ryana Dea Tersandung Kasus Penipuan
Agustina Jambak (46), warga Kelurahan Anggut Atas, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu, diduga menjadi korban penipuan oleh ibunda pesinetron cantik Ryana Dea Maharani, dengan inisial SN.
Agustina mengaku menolak berdamai dengan SN dalam perkara yang telah dilaporkannya ke Polres Kota Bengkulu. Alasannya, sejak awal SN tidak ada niatan baik dengan dirinya untuk mengembalikan pinjaman tersebut. Bahkan, Agustina sempat menjalani hukuman 1,8 tahun di Lapas Bentiring Kota Bengkulu. Dirinya dijebloskan ke bui, lantaran uang yang dipinjamkan ke SN diperoleh dari salah satu warga di Kelurahan Pengantungan Kecamatan Ratu Samban, yang melaporkan dirinya atas dugaan penipuan.
''Uang itu saya pinjam dari seseorang. Setelah itu saya berikan sama SN, karena saya yang meminjam dan dianggap tidak mau mengembalikan uang, jadi saya dilaporkan ke polisi atas dugaan penipuan dan dihukum selama 1,8 bulan,'' cerita Agustina, saat ditemui Okezone, Jumat (21/10/2016).
''Saya sudah menolong dia (SN), malah saya yang kena hukuman. Saya tidak mau damai,'' sambung Agustina.
Ia mengakui, pinjaman uang yang diberikan kepada SN mencapai 700 juta rupiah. Namun, bukti pinjaman dalam kwitansi hanya 150 juta rupiah. Dirinya memberikan pinjaman itu karena sudah percaya sama SN sehingga tidak membutuhkan kwitansi.
''Saya minta proses hukumnya terus berjalan. Saya sudah cukup menderita karena dia (SN),'' jelas Agustina.
Korban lainnya, Yanti Ilyas (46) warga Kelurahan Manahan Kecamatan Banjar Sari, Kota Solo Jawa Tengah mengatakan, dirinya juga enggan berdamai dengan SN.
Yanti mengaku sudah kehilangan uang yang dipinjamkan kepada SN sebesar 200juta rupiah.
''Lanjut terus,'' tegas Yanti.
Sementara itu, Kuasa Hukum terduga pelaku, Kuswandi menjelaskan.
''(Laporannya) masih diperiksa,'' singkat Kuswandi.
Seminyak Bali Jadi Surga Bagi Kalangan LGBT
Sebuah survei terbaru dari Virgin Holidays menunjukkan fakta bahwa mayoritas wisatawan lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) menyembunyikan orientasi seksualnya selama melakukan perjalanan wisata. Salah satu faktornya ialah karena belum banyak daerah wisata yang ramah menerima mereka.
Namun, agen travel OutofOffice menyebutkan Seminyak, Bali menjadi salah satu daerah wisata yang ramah dengan LGBT.
Survei itu menerangkan satu dari tiga wisatawan LGBT bahkan mengaku dapat perlakukan yang tak menyenangkan. Padahal, perjalanan wisata seharusnya dilakukan dengan rasa tenang dan tanpa gangguan, oleh semua kalangan.
Bos dari agen travel OutOfOffice.com, Darren Burn, mengatakan kalau sebenarnya wisatawan LGBT tetap bisa melakukan perjalanan wisata dengan nyaman, asal mengetahui aturan main dari daerah wisata yang akan dikunjungi.
Situsnya memang sedang melakukan kampanye yang fokus dengan wisatawan LGBT. Ia memiliki ide kampanye itu, setelah mengalami pengalaman buruk saat berlibur dengan kekasihnya di Mesir.
“Saya menyadari kalau seharusnya saya tidak perlu takut untuk berwisata ke mana pun, selama saya melakukannya dengan bijak,” kata Burn, seperti yang dikutip dari The Independent pada Rabu (19/10).
“Kondisi ini harus segera diubah dan aksi saling boikot, antara daerah wisata dan wisatawan LGBT, seharusnya tidak lagi dilakukan,” lanjutnya.
Senada dengan Burn, wartawan wisata dari situs berita Gay Star News, Jamie Tabberer, juga mengatakan kalau topik wisatawan LGBT memang sangat rumit.
“Banyak pembaca kami yang berdebat mengenai masalah ini,” kata Tabberer.
“Saya menghormati semua alasan yang dikemukakan, namun saya tidak ingin melarang mereka yang tetap ingin melakukan perjalanan wisata. Saya hanya berharap mereka menjaga keselamatan dan menghormati aturan setempat,” lanjutnya.
Tabberer lanjut mengatakan, bahwa tidak semua orang menerima konsep hidup kaum LGBT.
“Ingat, bahwa masih ada orang yang belum menerima hal ini. Jadi, hormati aturan yang diterapkan, selama masih masuk akal. Kampanye untuk mempermudah wisata LGBT juga masih harus dilakukan, agar semakin banyak orang yang mendukung,” ujar Tabberer.
Burh berharap semakin banyak negara yang menerapkan aturan, untuk melindungi hak wisatawan LGBT demi alasan keselamatan.
Ia juga menginginkan agar penjual paket perjalanan wisata dapat lebih terbuka dalam memberikan informasi keamanan kepada wisatawan LGBT.
Pilihan berwisata bagi wisatawan LGBT memang tidak banyak, tapi bukan berarti tidak ada. Dikatakan Burn, wisata kapal pesiar untuk kaum LGBT bahkan akan diluncurkan pada awal tahun depan.
“Perusahaan kami akan selalu memberikan rekomendasi terbaik, mengenai perjalanan wisata yang dianjurkan bagi wisatawan LGBT,” kata Burn.
Ada beberapa daerah tujuan wisata yang dinilai ramah bagi wisatawan LGBT. Dikutip dari OutOfOffice, berikut ini ialah beberapa kawasan tersebut:
1. Seminyak, Bali
Indonesia memang belum secara terbuka menerima keberadaan kaum LGBT. Tapi, belum ada aturan yang pasti mengenai hal tersebut.
Disebut OutOfOffice, sejumlah tempat wisata di Seminyak sangat ramah dengan wisatawan LGBT, mulai dari tempat penginapan sampai tempat makan.
Selain keramahan, wisatawan LGBT yang berkunjung ke kawasan pantai ini juga disuguhi oleh pemandangan alam yang cantik yang tersebar di setiap sudutnya.
2. Cape Town, Afrika Selatan
Tidak banyak wisatawan LGBT yang berminat untuk mengunjungi Afrika Selatan. Padahal, negara itu merupakan negara ke-lima di dunia yang melegalisasi pernikahan sesama jenis.
“Seluruh wisatawan, bahkan yang sesama jenis, dipersilakan berkunjung ke sini,” tulis OutOfOffice.
Selain pernikahan, pasangan LGBT boleh mengadopsi anak dan mendapat perawatan kesehatan di rumah sakit setempat.
Bisa dibilang, negara ini sangat nyaman untuk dikunjungi wisatawan LGBT. Belum lagi keindahan alamnya yang menarik untuk dijelajahi, mulai dari kota, hutan sampai lautan.
3. Maladewa
Wisatawan LGBT memang tidak disarankan untuk mengumbar kemesaraan saat tiba di bandaranya. Tapi, sejumlah tempat penginapan mewah di sana tidak memberlakukan aturan seketat pemerintahnya.
Terutama tempat penginapan mewah yang direkomendasikan oleh OutOfOffice.
“Walau tetap harus mematuhi beberapa aturan negara, tapi wisatawan LGBT tetap bisa berlibur ke Maladewa. Pemilik tempat usaha tetap menyambut mereka dengan ramah,” tulis seorang penulis blog, Luke Jackson.
4. Buenos Aires, Argentina
Argentina menjadi negara pertama di Amerika Latin yang melegalisasi pernikahan sesama jenis, dan pada 2010 pemerintah negara tersebut mengizinkan pasangan LGBT untuk mengadopsi anak.
Kota Buenos Aires bahkan mengadakan parade LGBT setiap November, yang berhasil menjadi atraksi wisata menarik.
Seluruh tempat menerima dengan terbuka kunjungan wisatawan LGBT, mulai dari museum sampai kelab malam.
5. Islandia
Islandia merupakan negara pertama yang memiliki perdana menteri dari kaum LGBT. Pada 2010, pernikahan sesama jenis dilegalkan di sana.
Berada di kawasan Eropa, tentu saja berkunjung ke Islandia merupakan pengalaman terbaik yang bisa dilakukan oleh wisatawan LGBT, terutama pecinta alam.
Di sana, mereka bisa mendatangi gua, tebing, pegunungan dan menyaksikan fenomena alam seperti Northern Lights.
6. Stiges, Spanyol
Menurut OutOfOffice, kota Stiges juga sangat ramah terhadap wisatawan LGBT. Mereka bahkan memiliki pusat keriaan khusus bagi kaum LGBT.
7. Mykonos, Yunani
Surga bagi wisatawan LGBT, begitu yang ditulis OutOfOffice. Tak hanya keindahan alamnya, keramahan penduduknya terhadap kaum LGBT juga membuat negara ini seperti surga.
Bahkan ada pantai Super Paradise yang didedikasikan bagi wisatawan LGBT. Di sana, mereka bisa melakukan berbagai kegiatan olahraga air.
Sophia Latjuba Dituding Pakai Fasilitas Negara Untuk Kampanye Ahok
Aktris cantik Sophia Latjuba belakangan sering mampir ke kantor Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Balai Kota Jakarta.
Rupanya, tindakan itu malah dinilai kurang tepat. Pengamat Politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio mengatakan, kehadiran Sophia Latjuba di Balai Kota sebagai juru bicara tim pemenangan merupakan tindakan offside.
"Kan enggak boleh menggunakan fasilitas Pemprov untuk kepentingan kampanye gubernur," ujarnya .
Jika saja kekasih Ariel Noah itu datang sebagai warga biasa ke kantor Ahok, menurut Hendri, hal itu tidak menjadi masalah. Sebab, pemimpin atas dasar good governance dan transparansi, mesti mengundang warga melihat langsung aktivitas pemimpinnya.
Namun, bila berkaitan dengan aktivitas kampanye, sambung dia, sebaiknya tidak dilakukan. Karena berada di lingkungan dengan fasilitas negara yang rawan disalahgunakan.
"Harus fair play dalam berkompetisi (pilkada)," pungkasnya.
Ketika Heboh Sejumlah Media Terkenal Diduga Disuap untuk Tutupi Kasus Lippo
Sejumlah media nasional terlibat menjadi makelar kasus dalam pengurusan tiga perkara perusahaan Lippo Grup di PN Jakarta Pusat. Tiga kasus itu, penolakan permohonan eksekusi tanah PT Jakarta Baru Cosmopolitan; penerimaan Rp 100 juta untuk pengurusan penundaan teguran aanmaning perkara niaga PT Metropolitan Tirta Perdana, dan penerimaan US$ 50 ribu.
Lalu, ditambah Rp 50 juta untuk pengurusan pengajuan Peninjauan Kembali PT Across Asia Limited meski sudah melewati batas waktu.
Dari kiriman surat elektronik yang ditunjukkan jaksa di persidangan, media cetak yang terlibat makelar kasus atau penyuapan lewat pengaturan pemberitaan adalah Bisnis Indonesia, Kontan, Media Indonesia.
Disebut pula Seputar Indonesia, Republika, Jakarta Post, Koran Tempo, Majalah Tempo, Majalah Gatra, Majalah Sindo, Majalah Review, Majalah Forum, Rakyat Merdeka, Neraca, Koran Jakarta dan Indopos dengan nominal angka di masing-masing media dari 450-650.
"Tiap media jasanya berbeda, tergantung berapa persen komisi yang mau saya ambil dari satu media, dan angka 450 itu dalam jutaan rupiah," ujar Direktur Utama Kobo Media Spirit Stefanus Slamet Wibowo dalam sidang di pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, baru-baru ini.
Jumlah uang sebesar itu kemudian diberikan kepada tim yang ia sebut pawang. "Proposal itu ditawarkan ke pawang, yaitu tim saya yang mengaku bisa menghandle media dengan biaya-biaya seperti itu, jadi uang dari saya ke pawang, dan pawang mengaku didistribuskan ke media," jelas Slamet.
Ia mengakui setidaknya sudah Rp 600 juta yang dikeluarkan Paul sejak periode 1 Mei hingga 31 Juli 2016 sedangkan pada periode 2010-2015 mencapai Rp 10-15 miliar.
Nilai yang di proposal tidak semuanya disetujui, kalau disetujui belum tentu dibayar. Kalau disetujui dan periodenya sudah habis bisa saja client minta diskon. “Tagihan saya sekitar 5-6 bulan itu Rp 600 juta, tapi angka dari Rp 600 juta ke pawang tidak semuanya saya berikan karena saya menjalankan fungsi marketing karena saya sendirian jadi saya berhak menentukan fee management untuk saya," ungkap Slamet.
Pengungkapan tersebut membuat heboh masyarakat dan media massa, terutama yang namanya disebut. Tetapi beberapa media yang disebut membantah tudingan itu. Seperti Tempo, Merdeka, dan Republika.
Kasus ini mengingatkan pada kasus yang menimpa perusahaan sawit di Kaltim. Berita kasus tersangka Suryo Tan yang diduga mengambil alih perusahaan seolah tidak seberendang kasus lainnya. Padahal Suryo Tan sendiri sudah berstatus tersangka. Kasus ini diduga juga melibatkan keberpihakan aparat di Kaltim.
23 Okt 2016
Lagu Tidak Terkenal, Tapi Aliando Syarief Kalahkan Afgan di Ajang Penghargaan Acara TV
ejumlah netizen mempertanyakan penghargaan yang didapat Aliando Syarief di acara Inbox Awards 2016, pada Rabu (19/10). Pasalnya, menurut mereka Aliando merupakan pesinetron baru yang juga masih mencoba untuk terjun ke dunia tarik suara.
Yang mengejutnya, Pesinetron ganteng-ganteng serigala itu bisa mengalahkan sejumlah penyanyi papan atas, seperti Afgan, Cakra Khan, Rizky Febian dan Virzha dalam acara tersebut.
Rasa ketidak puasan itu juga di ungkapkan oleh Dennis Lyla.
Melalui akun Twitternya, Denny dibuat heran dengan hasil tersebut. Pasalnya, diakui Dennis dirinya tak mengenal atau pun tahu karya Aliando.
“Haha…. sumpah kaga tau syp ni orang dan karya lagunya yang mana? Aneh bin ajaib!,” tulisnya.
Cuitan ini pun ditimpali oleh Anji. Melalui akun Twitternya, Anji menuturkan dirinya juga tak mengenal Aliando.
“Menarik nih dibahas. Ini soal ‘Kriteria penilaian’ bro. Sama. Gak tahu juga lagunya Aliando. Tapi DIA mungkin memang pantes menang,” tulisnya. “Gimana caranya UNTUK SEKARANG seorang Aliando bisa mengalahkan Afgan di ajang penghargaan? Ketika lagunya tidak banyak orang tahu. Gini..,” sambung Anji.
Tak berapa lama, cuitan ini pun langsung ditanggapi pro kontra netizen. Ada yang sependapat, namun ada pula yang balik menyindir Dennis dan Anji.
“@duniamanji lo ngebully ali atau apa sih mksudnya?? Itukan vote sms, gak salahkan klw fansnya kompak,” kata akun @ervianarum99 19 j.
“Belajarlah menghargai junior ia om ! Jgn nanti mulut mu harimau mu . Lol @dennislyla,” sambung akun@rahma_arra.
Move On dari Marshanda, Egi John Dekati Musdalifah
Sejak putus dari Marshanda, Egi John tidak pernah lagi mengunggah foto bersama seorang wanita. Namun kini pemain sinetron itu terang-terangan mengunggah foto berdua dengan komika Musdalifah Basri.
Lewat akun Instagram, Egi John mengumumkan hubungan cinta barunya seraya memamerkan pose berdua dengan wanita asal Makassar itu. Egi terlihat mengenakan jas hitam lengkap dengan peci, sementara Musdalifah memakai hijab berwarna merah muda.
"Santri dan SantriwatiPadepokan pacimanggis pakelapadua pacijantung pakehati pagenitbugenit. #moveon #newcouple," tulis Egi dalam caption foto.
Keduanya melakukan selfie sebanyak empat foto dan dibuat satu frame. Banyak yang mendoakan keduanya langgeng. "Hehhe musdalifah nya kocak...baru ajja nonton di infotaiment...bagusan juga sm musda...biar dia buat lucu teruss egi nya hheeh," kata seorang netizen.
Ada juga komentar yang menanyakan kenapa memilih Musdalifah yang sangat berbeda dengan karakter Marshanda. "amiin makasih doanya BarakAllahu fiik (emang udah saatNya). Emg dia orgnya nih si kocak @musdalifahbasri, kebetulan beliau juga idola saya,” jawab Egi John pada bagian komentar.