23 Jul 2017

Negara-Negara Ini Terancam Akan Hilang dari Peta Dunia

Sering kali kita menganggap setiap wilayah dan dataran di muka Bumi adalah sebuah tempat yang permanen, tak tergoyahkan, kokoh, dan tak berubah.

Ada banyak kasus yang menunjukkan, sebuah dataran di Bumi tiba-tiba menghilang. Penyebabnya mungkin pemanasan global -- yang membuat permukaan air laut naik setiap tahunnya.

Namun, hilangnya sebuah wilayah tak hanya disebabkan oleh faktor alam. Banyak alasan-alasan lainnya yang menyebabkan beberapa wilayah tersebut terhapus dari peta.

Misalnya, pada suatu masa ada sebuah negara bernama Yugoslavia. Namun, mulai tahun 1991, serentetan gejolak dan konflik politik membuatnya pecah.

Yugoslavia tinggal kenangan. Yang tersisa adalah negara-negara pecahannya, yakni Slovenia, Kroasia, Republik Makedonia, Bosnia dan Herzegovina, Serbia, dan Montenegro.

Seperti dikutip dari laman Toptenz, Rabu (19/7/2017), berikut 6 negara yang diprediksi akan hilang dari peta pada 2115:

1. Kiribati




Kiribati adalah lambang dari surga tropis. Pasalnya, pulau yang terdiri dari serangkaian atol dan terumbu karang ini memiliki suhu yang sangat pas bagi pecinta musim panas.

Pohon kelapa berjajar indah di tepi pantai dan birunya air laut menambah keindahan kawasan ini.

Namun, Anda harus berhati-hati ketika ingin berlibur ke pulau ini. Sebab, naiknya permukaan air laut sering terjadi tanpa dugaan.

Seperti Pulau Tebua Tarawa dan Abanuea yang hilang secara mendadak karena naiknya permukaan air laut.

Banyak yang memprediksi, negara pulau ini akan hilang dari peta pada 2115. Pejabat setempat juga tengah berupaya mengantisipasi naiknya air laut dan mengevakuasi warganya. Permohonan itu telah disampaikan kepada Australia, Selandia Baru dan Fiji agar dapat menerima penduduknya sebagai pengungsi.

Kiribati bahkan membeli tanah seluas lebih dari 5.000 hektar di Fiji. Yang kelak akan menjadi lokasi pengungsian mereka jika negara itu tenggelam.

"Ini adalah cara terakhir. Tak ada lagi yang bisa dilakukan," kata Presiden Kiribati, Anote Tong seperti dikutip dari Telegraph. "Rakyat kami harus pindah ketika pasang mencapai rumah dan desa kami."

Pak Presiden berharap rakyatnya nanti tak akan dianggap sebagai pengungsi, melainkan imigran, yang akan hidup berdampingan dengan rakyat Fiji. Kepindahan juga tak akan dilakukan sekaligus, melainkan bertahap.

Meski sudah memiliki lahan untuk pindah, bukan berarti rakyat Kiribati menyerah tanpa perlawanan. Menggugat akar permasalahan yang mereka alami, mengampanyekan perjanjian emisi karbon yang mengikat semua negara, menuntut kompensasi dari kekuatan industri dunia yang menjadi penyebab bencana terkait iklim.

2. Belanda


Masuk akal rasanya ketika banyak orang membayangkan negara-negara kepulauan akan menghilang begitu saja karena naiknya permukaan laut.

Namun yang dirasa kurang masuk akal adalah hilangnya negara di kawasan Eropa terhadap perubahan iklim. Meski demikian, hal tersebut sangat realistis. Pasalnya, Belanda adalah salah satu negara yang daratannya lebih rendah dari permukaan laut.

Selama ini, Negeri Kincir Angin itu mengandalkan tanggul sebagai pencegahan banjir. Sistem tersebut dibuat secara modern agar dapat menjaga kelangsungan hidup warganya.

Pada tahun 1953, sebuah badai pernah menghantam Belanda dan negara tetangganya, Belgia. Banjir sedalam 5,5 meter mampu menyapu bagian selatan negara tersebut.

Dengan demikian, para peneliti di Eropa telah memprediksi wilayah tersebut dapat terancam oleh bencana alam, yang salah satunya adalah Badai Katrina.

3. Taiwan


Pemerintah China menganggap Taiwan sebagai provinsinya yang 'membangkang'.

Namun sebaliknya, Taiwan kukuh menyebut sebagai negara berdaulat, yang menjalankan pemerintahan sejak kepemimpinan Chang Kai-shek tahun 1949.

Kisruh antar Beijing dan Taipei ini terus berlanjut, secara pasang surut, kadang naik kadang turun tensinya.

Pada 25 Oktober 1971, Majelis Umum PBB memilih untuk mengakui Tiongkok dan mengeluarkan Taiwan dari keanggotaan. Keputusan tersebut ditentang keras oleh Amerika Serikat.

Sementara, kebanyakan negara di dunia menerima prinsip 'one-China' yang menyatakan bahwa negara di Kepulauan Formosa itu dan Tiongkok Daratan adalah sebuah kesatuan.

4. Korea Utara


Sama halnya seperti China dan Taiwan, Korea Utara dan Korea Selatan diprediksi akan bersatu dan menjadi satu wilayah yang sama.

Selama ini Korea Utara memilih untuk memisahkan diri. Satu-satunya kekuatan terbesar yang dimiliki oleh negara yang dipimpin oleh diktator Kim Jong-un itu adalah kekuatan militer saja.

Kebanyakan pakar menganggap, semua hanya soal waktu. Akan ada masanya kedua negara yang terpecah akan kembali bersatu pada 2115. Ditambah lagi Korea Selatan siap untuk membawa Korea Utara kembali ke jalur perdamaian.

Sama halnya seperti catatan sejarah antara Jerman Barat dan Timur yang kembali bersatu sejak tahun 1990.

5. Palestina


Meski benderanya pernah dikibarkan di PBB, Palestina belum sah menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Majelis Umum PBB baru memberikan Palestina status sebagai negara pengamat nonanggota -- langkah yang ditentang keras oleh Israel dan AS.

Wilayah Palestina terus berkurang akibat aneksasi atau pencaplokan yang dilakukan Israel.

Negeri zionis terus-menerus membangun pemukiman Yahudi baru di atas tanah Palestina. Konflik kedua negara yang terus terjadi terus memakan korban.

Jika aneksasi itu tak dihentikan, banyak pengamat yang memprediksi wilayah Palestina akan hilang di tahun 2115.

6. Haiti


Republik Haiti adalah sebuah negara di Karibia yang meliputi bagian barat pulau Hispaniola dan beberapa pulau kecil lainnya di Laut Karibia.

Haiti merupakan negara kedua yang merdeka di Benua Amerika setelah Amerika Serikat -- juga salah satu produsen gula terpenting di dunia.

Haiti juga merupakan salah satu negara termiskin di dunia. Apalagi setelah dilanda gempa hebat pada tahun 2009 yang menyebabkan ekonomi negara itu berantakan.

Negara ini diprediksi akan hilang karena banyak problem yang terjadi di wilayah ini. Kemiskinan, konflik antar manusia, bencana alam dan perubahan iklim adalah hal yang tak dapat dihindari.

Akan Ada Ormas Lain yang Akan Segera Dibubarkan Presiden Joko Widodo

Pemerintah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) lewat pencabutan badan hukum organisasi oleh Kemenkum HAM. Dasar pencabutan badan hukum itu adalah Perppu Nomor 2/2017.

Dalam Perppu tersebut, organisasi yang tak sesuai dengan Pancasila akan dibubarkan. Kemenkum HAM menegaskan pembubaran HTI sudah sesuai dengan data dan fakta.

Akankah ada organisasi masyarakat lain yang dibubarkan setelah ini?

"Yang ini kan hari ini sudah diputuskan, ya itu. Kita berbicara satu-satu," jawab Presiden Joko Widodo di JCC, Senayan, Jakarta, Rabu (19/7/2017).

Jokowi mengatakan pembubaran HTI sudah melalui proses panjang. Pemerintah telah melakukan kajian, termasuk mendapat masukan dari ulama dan masyarakat.

Sayangnya, Kemenkum HAM tidak menjabarkan data dan fakta yang menjadi alasan pembubaran HTI. Kemenkum hanya beralasan pembubaran ini untuk merawat Pancasila.

"SK pencabutan status badan hukum HTI dilakukan berdasarkan data dan fakta serta koordinasi dari seluruh instansi yang dibawa koordinasi Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan," ujar Dirjen Administrasi Hukum Umum (AHU) Kemenkum HAM Freddy Harris dalam jumpa pers di kantornya.

Presiden Jokowi Terjebak RUU Pemilu?

Presiden Joko Widodo dicurigai terkena jebakan kelompok tertentu dalam pembahasan Rancangan Undang-undang Penyelenggaraan Pemilu. Jebakan mengenai Jokowi karena pemerintah masih mempertahankan opsi ambang batas pencalonan presiden sebesar 20/25 persen hingga saat ini.

Menurut Peneliti Pusat Studi Konstitusi Universitas Andalas Feri Amsari menilai tingginya ambang batas pencalonan presiden dari pemerintah dapat menjadi senjata makan tuan bagi Jokowi di Pemilu 2019.

"Saya khawatir presiden sedang dijebak oleh pihak tertentu yang sedang memainkan kepentingan dalam RUU pemilu. Kenapa? Kalau syaratnya 20/25 artinya presiden harus mempunyai partai yang sangat kuat untuk bisa mencalonkan dirinya. Sementara saat ini presiden tak memiliki partai," ujar Feri di kawasan Menteng, Jakarta, Rabu (19/7).

Selain sarat kepentingan kelompok tertentu, ambang batas pencalonan presiden juga dinilai tak relevan untuk digunakan dalam pemilu serentak.

Feri menjelaskan, penerapan ambang batas pencalonan presiden dapat dilakukan jika pemilu nasional tidak dilaksanakan serentak. Sebaliknya, ambang batas tak bisa diterapkan saat pemilu legislatif dan presiden berjalan bersamaan.

"Kan ini tidak logis, parpol yang populis dalam pemilu sebelumnya kan belum tentu populis di pemilu yang akan datang," tuturnya.

Pendapat serupa juga disampaikan Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraini. Menurut Titi, pernyataan Jokowi yang ingin menyederhanakan penyelenggaraan pemilu dengan penerapan ambang batas pencalonan presiden harus diluruskan.

"Memang beberapa kali pemilu 20 persen (ambang batasnya), dulu bisa karena pemilu tidak serentak dan legislatif mendahului pilpres sehingga praktik itu bisa dilakukan. Tidak bisa dibandingkan yang akan dihadapi pada 2019 dengan praktik sebelumnya," kata Titi.

Pembahasan RUU Pemilu di DPR akan mencapai puncaknya pada Rapat Paripurna yang hendak digelar lembaga legislatif nasional, Kamis (20/7) esok. Rencananya, dalam rapat paripurna nanti keputusan pengesahan RUU Pemilu akan diambil seluruh anggota parlemen melalui musyawarah untuk mufakat.

Terkait Presidential Threshold, Presiden Jokowi Terkena Jebakan RUU Pemilu?

Presiden Joko Widodo dicurigai terkena jebakan kelompok tertentu dalam pembahasan Rancangan Undang-undang Penyelenggaraan Pemilu. Jebakan mengenai Jokowi karena pemerintah masih mempertahankan opsi ambang batas pencalonan presiden sebesar 20/25 persen hingga saat ini.

Menurut Peneliti Pusat Studi Konstitusi Universitas Andalas Feri Amsari menilai tingginya ambang batas pencalonan presiden dari pemerintah dapat menjadi senjata makan tuan bagi Jokowi di Pemilu 2019.

"Saya khawatir presiden sedang dijebak oleh pihak tertentu yang sedang memainkan kepentingan dalam RUU pemilu. Kenapa? Kalau syaratnya 20/25 artinya presiden harus mempunyai partai yang sangat kuat untuk bisa mencalonkan dirinya. Sementara saat ini presiden tak memiliki partai," ujar Feri di kawasan Menteng, Jakarta, Rabu (19/7).

Selain sarat kepentingan kelompok tertentu, ambang batas pencalonan presiden juga dinilai tak relevan untuk digunakan dalam pemilu serentak.

Feri menjelaskan, penerapan ambang batas pencalonan presiden dapat dilakukan jika pemilu nasional tidak dilaksanakan serentak. Sebaliknya, ambang batas tak bisa diterapkan saat pemilu legislatif dan presiden berjalan bersamaan.

"Kan ini tidak logis, parpol yang populis dalam pemilu sebelumnya kan belum tentu populis di pemilu yang akan datang," tuturnya.

Pendapat serupa juga disampaikan Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraini. Menurut Titi, pernyataan Jokowi yang ingin menyederhanakan penyelenggaraan pemilu dengan penerapan ambang batas pencalonan presiden harus diluruskan.

"Memang beberapa kali pemilu 20 persen (ambang batasnya), dulu bisa karena pemilu tidak serentak dan legislatif mendahului pilpres sehingga praktik itu bisa dilakukan. Tidak bisa dibandingkan yang akan dihadapi pada 2019 dengan praktik sebelumnya," kata Titi.

Pembahasan RUU Pemilu di DPR akan mencapai puncaknya pada Rapat Paripurna yang hendak digelar lembaga legislatif nasional, Kamis (20/7) esok. Rencananya, dalam rapat paripurna nanti keputusan pengesahan RUU Pemilu akan diambil seluruh anggota parlemen melalui musyawarah untuk mufakat.

22 Jul 2017

Siapa Artis-Artis yang Jadi Pelanggan Narkoba Pretty Asmara?

‎Pretty Asmara diduga menjadi pengedar narkoba di kalangan artis. Hal itu diperoleh dari keterangan Pretty Asmara yang sudah dua tahun mengedarkan narkoba.

Ditambah lagi saat digerebek polisi, Pretty Asmara sedang menggelar pesta narkoba dengan tujuh rekan artis. Kabarnya, pesinetron Saras 008 itu sudah memiliki pelanggan tetap di dunia hiburan. Siapa saja?‎

"Terkait masalah itu memang belum ada keterangan, namun akan kami dalami. Termasuk kemungkinan itu (adanya artis terkenal yang konsumsi narkoba)," ujar ‎‎Kasubdit II Ditresnarkoba, AKBP Dony Alexander‎ di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (18/7/2017).

‎Saat ini polisi masih fokus menangkap bandar utama yang berhasil kabur dalam penggerebekan lalu. Bandar ini juga diyakini menyuplai narkoba ke production house (PH) untuk dikonsumsi para artis.

"TO (target operasi) kami memang awalnya Hamdan. Seorang bandar yang kami dapatkan termasuk dari masyarakat sering menyuplai ke PH. Apakah ini diberikan kepada khalayak ramai atau pesanan lain, itu masih dalam proses pendalaman," kata AKBP Dony Alexander.

Ini Sosok Orang Yang Menawarkan Narkoba Untuk Anak Jeremy Thomas

Ditemui di Polres Bandra Soekarno Hatta selesai temani pemeriksaan lanjutan sang anak, Jeremy Thomas mulai berani mengatakan nama oknum yang disangka menjebak Axel hingga ia dapat turut tersangkut dalam persoalan ini.

Tanggapan singkat dari Axel yang di ketahui pernah mentransfer sebagian jumlah uang jadi semula masalah ini mencuat kepermukaan, hingga pernah membuat Axel sesi belur dianiaya pihak kepolisian pada Sabtu 15 Juli 2017 kemarin.

" Yang lakukan penawaran pada Axel itu namanya Dimitri. Dia memanglah seringkali lakukan jualan-jualan apa sajakah di on-line. Dari mulai pakaian bahkan juga mungkin saja menjurus ke benda-benda yg tidak pantas untuk di jual, " kata Jeremy Thomas yang didapati di Polres Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (19/7/2017).

" Mungkin saja satu diantaranya pembicaraan putra saya ini itu terekam atau terecord disitu. Jadi tidak disangkal kita di sini coba menjawab sesuai sama kenyataan. Tidak disangkal mungkin saja dia ada chat kebetulan Dimitri itu yang senantiasa, serta sering tawarkan barang itu. Serta Axel mungkin saja merespons. Yang saya hanya saksikan kalau dari tanggapan tersebutlah timbulnya masalah ini, " sambungnya

Lebih detilnya Jeremy Thomas mengakui kalau Dimitri adalah seseorang rekan dari Axel mulai sejak kecil. Bahkan juga keluarga keduanya telah cukup mengetahui dekat pria yang di ketahui sering jual serta tawarkan beberapa barang yang umum dibeli oleh Axel.

Menyikapi berita masuknya sang putra jadi satu diantara tersangka memanglah cukup disesali oleh Jeremy serta Ina Thomas. Ia bahkan juga mengakui prihatin karena sang anak nyatanya dapat terperosok oleh pergaulan yang kurang baik yang merugikan dianya dan keluarga.

" Dimitri ini seperti rekan keluarga kita dari kecil. Saya mengetahui baik orangtuanya. Maka dari itu di sini juga adalah keterkejutan untuk kita, kok dapat di chatting itu ngelead ke momen begini. Saya prihatin dengan putra saya. Dia masih tetap 19 th., mungkin saja yang namanya anak muda biasalah. On-line beli apa serta semua jenis, " ungkap Jeremy.

" DNA jumlah nya tidak besar cuma 1, 5 juta. Hanya dapat menyeret dia hingga kedalam sepeti ini. Jadi saya prihatin sekali pada kecerobohan Axel juga yg tidak dapat membina rekan pada Axel juga yang dapat memastikan sikap mana yang perlu dia tanggapan mana yg tidak. Saya prihatin saya kecewa, " tandasnya.

Apakah Artis Selalu Jadi Target Buruan Polisi Di Kasus Narkotika?

Kasus penyalahgunaan narkotik kerap menyeret nama artis di tanah air. Dunia hiburan seakan-akan tak jauh dari kepemilikan dan pesta narkotik.

Setelah kasus Ridho Irama dan Axel Matthew Thomas, kali ini Pretty Asmara diciduk kepolisian karena terlibat penjualan narkotik jenis sabu dan ekstasi.

Pretty ditangkap pada Minggu (16/7) lalu di Hotel Mercure, Jakarta Pusat usai menggelar pesta sabu bersama tujuh rekannya yang berprofesi sebagai penyanyi dangdut, penyanyi pop, model dan pemain sinetron.

Mereka ini adalah adalah SS (pemain film layar lebar), EY (penyanyi dangdut), ES (penyanyi dangdut), MA (penyanyi dangdut), AH (pemain sinetron), GL (model), dan DW (penyanyi pop).

Dari sekian yang mengaku mengkonsumsi narkotik karena faktor pekerjaan, ada juga yang mengaku sengaja dijebak oleh kepolisian dan pengedar narkotik.

Axel dan Pretty misalnya. Saat ditangkap, keduanya mengaku sengaja dijebak dan mengaku tidak pernah menggunakan barang yang diharamkan UU tersebut.

Apakah polisi memang sengaja menjebak dan menargetkan artis untuk ditangkap?

Kasubdit II Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya AKBP Donny Alexander mengatakan pihaknya tak pernah menargetkan kalangan artis dalam operasi penangkapan narkotik selama ini.

Donny mengatakan, para artis yang terlibat merupakan hasil pengembangan kasus. Dalam pengembangan ini, kata Donny, pelaku pengedar narkotik mengaku menjual barang itu ke kalangan artis.

"Ya bukan target ya. Para bandar yang jadi target utama. Kebetulan mereka ini ada hubungan dengan para artis," kata Donny di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (18/7).

Donny mengatakan kalangan artis yang terjebak merupakan korban dari pengedaran narkotik. Dia menyebut para bandar menjual narkotik ke kalangan artis karena dinilai kelimpahan fulus.

"Sebenarnya mereka itu korban ya. Jadi tidak yang namanya menjebak," ujarnya.

Badan Narkotika Nasional pernah menyebut jika kalangan artis memang menjadi sasaran empuk para pengedar narkoba. Kemampuan keuangan, gaya hidup dan penampilan para pesohor tersebut serta beban kerja yang mereka lalui menjadi alasan kenapa mereka kerap mengkonsumsi narkotik.

Ditambah faktor keuangan memang cukup mendukung untuk pembelian narkoba lantaran harganya yang relatif mahal.